«

»

Adam Dan Hawwa Keluar Dari Surga

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

e10Adam dan Hawwa turun ke Bumi dari Surga disebabkan dia terbujuk rayuan iblis, Allah memberi hukuman turun dari Surga kepada Adam dan Hawwa karena telah melanggar perintahnya yaitu memakan buah khuldi. Sebagaimana firman-Nya:

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al Baqoroh, 2:38).

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”.(QS. Al A’raaf, 7:24).

Pada (QS. Al Baqoroh, 2:36).yang lalu telah disebutkan perintah Allah SWT kepada Adam, Hawa dan Iblis agar mereka keluar dari surga. Kemudian dalam ayat 38 ini Allah SWT mengulangi lagi perintah-Nya itu, yaitu agar Adam dan Hawa keluar dari surga yang penuh kenikmatan dan kesenangan hidup, pindah ke bumi yang menghendaki kerja keras dan perjuangan, kepadanya dibentangkan dua macam jalan.

Pertama, adalah jalan yang dapat mengantarkan kepada kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat yaitu dengan beriman kepada Allah SWT serta mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.

Kedua, jalan orang kafir dan durhaka terhadap-Nya menuruti bujukan-bujukan setan dan jalan ini akan membawa manusia kepada kerugian dan kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Barangsiapa mengikuti petunjuk-petunjuk Allah SWT. yang disampaikan-Nya melalui rasul-rasul-Nya, maka mereka itulah yang akan memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman. Terhadap mereka tak akan ada kekhawatiran apa pun dan mereka tidak pula dikhawatirkan karena iman dan ketaatan mereka yang teguh kepada kekuasaan dan rahmat Allah SWT. dan mereka tak akan merasa sedih atas kejadian-kejadian yang menimbulkan kerugian harta benda atau pun kehilangan anggota keluarga dan sebagainya karena bagi orang-orang yang beriman teguh dan selalu berpegang kepada petunjuk-petunjuk Allah mudah baginya menghadapi segala macam musibah dan cobaan-cobaan yang menimpa dirinya. sebab ia percaya bahwa kesabaran dan penyerahan diri kepada Allah SWT. adalah jalan yang terbaik untuk memperoleh keridaan-Nya, di samping pahala dan ganjaran yang diperolehnya dari Allah yang merupakan ganti yang lebih baik dari yang telah hilang dari nya.

Agama telah mengharamkan sebagian dari barang-barang yang lezat yang manusia mampu untuk menikmatinya. Larangan tersebut disebabkan karena kerusakan yang dapat ditimbulkannya, baik terhadap pribadi orang yang melakukannya, maupun terhadap orang lain dan masyarakat umum. Maka barangsiapa yang dapat membayangkan bahaya yang mungkin timbul karena menikmati kelezatan yang telah diharamkan itu dan dapat pula menggambarkan dalam pikirannya pengaruh-pengaruh dan bekas-bekas jelek yang akan menimpa dirinya karena perbuatan, itu baik terhadap dirinya maupun terhadap umatnya, niscaya dia akan lari dari setiap kelezatan yang diharamkan itu, seperti larinya orang-orang yang sehat dari penyakit kusta. Lebih-lebih orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dia akan memandang bahwa yang dilarang agama akan menimbulkan aib dan kekotoran pada dirinya dan akan menjauhkannya dari kebahagiaan dan kemuliaan di hari kiamat kelak. Orang orang yang bersih dari perbuatan dosa di dunia ini nanti akan kelihatan wajahnya berseri-seri, sedang orang-orang yang selalu bergelimang dosa akan kelihatan wajahnya hitam muram.

Bumi Tempat Hidup Adam Dan Hawwa

Adam dan Hawwa tinggal di Dunia atas dasar perintah Alah SWT, dalam firman-Nya :

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaithon dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Baqoroh, 2:36).

Dari ayat diatas, jelas sekali bahwa Adam dan Hawwa diperintahkan oleh Allah SWT untuk turun dari Surga ke Bumi, sehingga Bumi itu sebagai tempat tinggal, di Bumi juga terdapat kesenangan hidup, di Bumi juga manusia keturunan Adam dan Hawwa akan terjadi permusuhan satu dengan yang lainnya, hal ini juga terdapat firman Allah diayat yang lainnya :

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. Allah berfirman: “Di Bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. Al A’raaf, 7:24-25).

Petunjuk Dari Allah SWT Untuk Adam Dan Hawwa

Betapa sedihnya nabi Adam dan Hawwa karena telah terusir dari Surga yang dikarenakan mengikuti bisikan dari Iblis. Akan tetapi Allah SWT adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka Allah SWT memberikan kabar gembira kepada nabi Adam AS dan isterinya Hawwa yaitu mereka tidak usah bersedih hati, mereka dapat kembali ke Surga asalkan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari Surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al Baqoroh, 2:38).

Apabila nabi Adam dan Hawwa mengikuti petunjuk dari Allah SWT maka tidak akan sesat dan tidak akan celaka, akan tetapi apabila berpaling dari petunjuk Allah SWT maka akan mendapatkan kehidupan yang sempit, sebagaimana firman-Nya :

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari Surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(Thoha, 20:123-124).

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>