«

»

Bisikan Syaithon Kepada Nabi Adam Dan Hawwa

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

e9Meskipun pada penjelasan sebelumnya telah disebutkan bahwa setelah terusirnya iblis dari Surga, lalu dia bersumpah untuk melakukan balas dendam mengenai perkara ini kepada Adam. Karena itu, hal inilah yang menyebabkan iblis terusir dari sisi Surga. Dalam ayat ini disinggung awal mula bisikan dan godaan syaithan dan mengatakan, melalui bujukan dan bisikan syaithon yang menyesatkan, akhirnya Adam dan Hawa memakan buah dari pohon terlarang itu. Yaitu, setan dengan menampakkan bentuk lahirnya, lalu berkata kepada keduanya, “Sesungguhnya Allah SWT telah melarang kalian berdua untuk mendekat dan memakan pohon ini, dikarenakan apabila kalian memakannya, pastilah kalian akan seperti malaikat yang bisa abadi dalam umurnya. Adam dan Hawa yang sebelumnya tidak pernah mendengar kebohongan seseorang, bahkan sebuah pengalaman pun mengenai itu tidak pernah mereka alami, maka mereka berdua termakan oleh tipuan dan bujuk rayu syaithon, sehingga mereka berdua lupa terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Akhirnya Adam dan Hawwa melanggar perintah Allah SWT yaitu memakan buah khuldi. Firman-Nya:

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaithon dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di Bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Baqoroh, 2:36).

Maka syaithon membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaithon berkata: “Robb kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaithon) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk yang memberi nasehat kepada kamu berdua”. Maka syaithon membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun Surga. Kemudian Robb mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaithon itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al A’raaf, 7:20-22).

Kemudian syaithon membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) Surga, dan durhakalah Adam kepada Allah dan sesatlah ia. (QS. Thoha, 20:120-121).

Taubat Nabi Adam Dan Hawwa Kepada Allah SWT

Sekalipun Nabi Adam dan Istrinya termakan tipuan dan bujuk rayu syaithon, namun beliau dengan cepat sadar atas kesalahan dan kekhilafan tersebut. Dengan penuh penyesalan beliau berdoa ke hadirat Allah SWT memohon ampunan, sebagaimana firman-Nya :

Keduanya berkata: “Ya Robb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raaf, 7:23).

Kemudian Robb-nya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (QS. Thoha, 20:122).

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Robb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqoroh, 2:37).

Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah Adam AS. dike1uarkan dari surga itu, ia telah menerima ilham dari Allah SWT. yang mengajarkan kepadanya kata-kata untuk bertobat. Lalu Adam bertobat dan memohon ampun kepada Allah swt. dengan menggunakan. kata-kata tersebut, yang berbunyi sebagai berikut:

Keduanya berkata: “Ya Robb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Q.S Al A’raf, 7:23)

Setelah Adam berdoa untuk memohon ampun kepada Allah dengan mengucapkan kata-kata tersebut, maka Allah pun menerima tobatnya dan melimpahkan rahmat-Nya kepada Adam. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Pengasih. Sebab Allah senantiasa memberikan maaf dan ampunan serta rahmat-Nya kepada orang yang bertobat dari kesalahannya. Tobat yang diterima Allah adalah tobat yang memenuhi hal-hal sebagai berikut:

1. Menyesali dan meninggalkan segera kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
2. Menjauhi dan tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dan perbuatan-perbuatan semacam itu.
3. Menyusuli (mengganti) perbuatan dosa itu dengan perbuatan-perbuatan yang baik.

Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:

أتبع السيئة الحسنة تمحها
Iringilah perbuatan jahat itu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan dapat menghapuskan dosanya”: (H.R At Tirmizi dari Abi Zar)

Dalam ayat ini ada dua macam sifat-sifat Allah SWT. disebutkan sekaligus, yaitu : ” Maha Penerima tobat” dan “Maha Pengasih”. Hal ini adalah merupakan isyarat tentang jaminan Allah kepada setiap orang yang bertobat menurut cara-cara yang tersebut di atas, bahwa Allah SWT. akan melimpahkan kepadanya kebaikan serta maaf dan ampunan-Nya.

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>