«

»

Nabi Adam Dan Hawwa Tinggal Di Surga

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

e8Ketika Adam dan Hawa diperintahkan untuk tinggal di surga, Allah memberikan kenikmatan sesuai dengan kebutuhan dasar hidup mereka. Yaitu makanan, minuman dan pasangan hidup. Sambil, Allah menguji mereka apakah fasilitas kehidupan surga itu membuat mereka lupa atau tidak. Allah hanya memberikan satu larangan saja, yang disimbolkan sebagai ‘pohon’.

Pohon itu menyimpulkan dua hal sekaligus. Yaitu makanan dan aurat. Karena itu perintah-Nya dikaitkan dengan kedua hal sekaligus. Awalnya, Allah mengatakan Adam dan Hawa boleh memakan apa saja yang ada di dalam surga, kecuali pohon itu. Allah memberikan gambaran tidak langsung bahwa larangan itu berkaitan dengan makanan.

Dan pada cerita selanjutnya, dikatakan bahwa memakan sebagian pohon itu bisa menyebabkan auratnya terbuka. Menyiratkan, bahwa pohon itu tidak hanya mewakili larangan terhadap makanan, melainkan juga simbol hawa nafsu yang tersimpan di dalam diri setiap manusia. Allah menegaskan bahwa di surga itu Adam dan Hawa tak akan kekurangan apa-apa selama masih berada di dalamnya mereka dijamin tidak akan kekurangan makanan, minuman, atau pun pakaian. Mereka tidak akan telanjang. Juga tidak kepanasan. Larangan untuk Allah SWT mendekati pohon khuldi, sebagaimana firman-Nya:

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu Surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqoroh, 2:35).

(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggAllah kamu dan isterimu di Surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al A’raaf, 7:19).

Pohon Khuldi

Buah Khuldi dianggap sebagai biang keladi turunya Adam dan Hawa dari surga. Seandainya, Adam dan Hawa tak makan buah khuldi, niscaya mereka tidak akan diusir dari surga. Begitulah keyakinan sebagian besar kita tentang peristiwa di sekitar turunnya Adam dan Hawa dari surga, Setan menggunakan buah khuldi itu menyesatkan Adam dan Hawa, agar membangkang perintah Allah SWT. Ada beberapa kontroversi yang muncul diseputar turunya Adam dan Hawa dari surga itu. Diantaranya, adalah tentang buah khuldi yang ternyata tidak disebut secara eksplisit oleh Allah SWT.

Allah hanya menyebut pohon tersebut secara sepintas selalu, tanpa menyebut nama. Nama ‘buah khuldi’ justru muncul dari istilah syaithan ketika merayu Adam dan Hawa untuk memakannya. Itu pun tidakn secara eksplisit menyebut buah. Melainkan menyebut syajaratul khuldi alias ‘pohon keabadian’. Nabi Adam Tak Diusir dari Surga. Pohon keabadian itulah yang memunculkan istilah buah khuldi. Padahal, kata ‘buah’ pun secara eksplisit tidak disebut dalam Al-Qur’an. Allah hanya mengatakan, Adam dan Hawa memakan bagian dari pohon itu.

Sebenarnya kalau kita cermati substansinya ayat-ayat yang terkait dengan pohon khuldi, bentuk fisiknya tidaklah menjadi masalah penting. Yang lebih penting adalah ‘larangan’ Allah untuk mendekati pohon itu. Terbukti, Allah tidak menyebut nama pohon, kecuali hanya menyinggung sepintas dengan sebutan ‘pohon ini’ (haadzihis syajarat). Dan bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali. Termasuk syaithan pun hanya menyebut dengan ‘pohon ini’.

Munculnya istilah pohon khuldi itu, sekali lagi, karena kita sendiri yang menamakannya. Berdasarkan ‘rayuan setan’ kepada Nabi Adam. Yang menarik, larangan Allah kepada Adam untuk mendekati pohon itu adalah karena Allah tidak menginginkan Adam menjadi orang yang zalim. Jadi, kunci pemahaman atas pohon khuldi itu sebenarnya adalah kata ‘zalim’. Bahwa, jika Adam dan Hawa mendekati atau apalagi memakannya, mereka bakal menjadi orang yang zalim. Dengan kata lain agar kita bisa memahami substansi pohon larangan itu, kita harus memahami makna kata zalim.

Kata zalim di dalam Al-Qur’an diulang-ulang oleh Allah dalam ratusan ayat. Tak kurang dari 200 ayat, dengan segala variasinya. Makna yang paling dominan adalah ‘melanggar perintah Allah’, kemudian diikuti dengan arti yang hampir sama seperti ‘menyekutukan Allah’, mengikuti yang selain Allah. Berbuat tanpa petunjuk Allah, kemudian diikuti dengan arti yang hampir sama seperti ‘menyekutukan Allah’, ‘mengikuti yang selain Allah’. ‘Berbuat tanpa petunjuk Allah’, ‘menentang himbauan Allah’, ‘mendustakan allah’, dan sebagainya. Di ayat lain lagi Allah memberikan gambaran bahwa orang-orang zalim itu adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya tanpa memiliki ilmu pengetahuan tentangnya. Mereka adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan tidak memperoleh petunjuk dari Allah.

Jadi substansi pohon larangan itu sebenarnya adalah uji ketaatan Adam dan Hawa. Fisik benda yang dilarang tidaklah menjadi hal penting, sebagimana tersirat dari cara Allah bercerita, yang tanpa menyinggung langsung materinya. Yang lebih penting adalah bahwa Allah menguji dengannya, apakah Adam dan Hawa termasuk orang-orang yang taat kepadaNya.

Peringatan Allah SWT Kepada Nabi Adam a.s

Peringatan Allah SWT kepada Adam adalah bahwa iblis adalah musuhnya yang dapat mengeluarkan Adam dan Hawwa dari Surga, sebagaimana firman-Nya:

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari Surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya”. (QS. Thoha, 20:117-119).

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

1 comment

  1. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,

    firman Allah : “Dan Kami berfirman:”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga
    ini, dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik di mana saja
    yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan
    kami termasuk orang-orang yang zalim.” Quran surat Al Baqarah:35.

    disini adam dan hawa boleh makan apa saja yg mereka sukai, kecuali mendekati sesuatu pohon yg terlarang.

    firman Allah : (Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu
    di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang
    kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu
    menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim”.

    disini adam dan hawa boleh makan buah-buahan apa saja yg mereka sukai.kedua ayat ini menunjukkan keadaan mereka di surga.
    sebelum mengetahui makna pohon terlarang tersebut kita musti mengetahui arti surga yg sebenarnya.
    surga adalah tanpa jerih payah hanya kenikmatan saja.
    seluruh makanan sudah tersedia pada pinggan-pinggan untuk adam dan hawa dimana saja meraka berada dalam surga.Allah hanya melarang mereka mendekati suatu pohon( berarti di surga saat itu hanya ada satu pohon) dan Allah tidak ada berfirman salah satu pohon di surga.
    sebenarnya Allah melarang adam dan hawa memetik dan memakan buah dari pohon tersebut karna ini melanggar perintah dan larangan dari Allah.
    ingatlah
    bahwa Allah pernah melarang bangsa yahudi bekerja pada hari sabat
    tetapi mereka melanggarnya sehingga mereka di kutuk menjadi monyet.
    wassalamualaikum wr.wb

    sayyid

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>