«

»

Ditolaknya Taubat Firaun

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

f33Ada pelajaran penting yang dapat diambil dalam kisah tentang penyesalan Firaun di penghujung hidupnya yang ditolak oleh Allah. Allah memberikan banyak waktu kepada manusia untuk merenungkan keberadaan mereka di dunia ini dan untuk memahami bahwa mereka adalah hamba Allah. Para utusan Allah, dengan firman-firman Allah dan para pengikut setianya menyampaikan ajaran Allah kepada manusia. Manusia memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menyadari pesan-pesan itu dan akhirnya memohon pengampunan Allah.

Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan . (QS. Yunus, 11: 91)

Ketika ajal telah mendekat, seseorang dapat melihat dengan jelas kenyataan dan kemungkinan yang akan terjadi di alam baqa dan dapat menyaksikan kebenaran saat berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Saat itu, seseorang tidak mungkin lagi menolak kebenaran. Namun, yang penting adalah melatih kesadaran seseorang dan berupaya untuk selalu ikhlas selama hidup di dunia, yakni ketika ia tengah diuji. Melalui masa ujiannya, Fir’aun telah bersikap tidak hormat dan melawan Allah. Karena itu, taubatnya yang didorong oleh ketakutan menjelang ajal tidak dapat dan tidak berguna untuk menyelamatkannya.

Peristiwa ini harus menjadi peringatan penting bagi mereka yang percaya pada nilai ‘menikmati hidup sepuasnya’ dan menunda taubat pada usia tua nanti. Bagaimanapun, memenuhi kewajiban keagamaan tidak boleh ditunda-tunda kecuali bagi mereka yang diizinkan Allah. Manusia yang menunda kewajiban keagamaannya ketika masih muda akan mencapai tahap akhir kehidupannya yang saat itu iman dan taubatnya menjadi tidak berharga lagi. Fir’aun beriman pada penghujung hidupnya. Ia pun meminta pengampunan yang ditolak Allah. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Mereka diperlihatkan kepada panasnya api neraka pada waktu pagi dan petang (semasa mereka berada dalam alam Barzakh); dan pada hari berlakunya kiamat (diperintahkan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan pengikut-pengikutnya ke dalam azab siksa api neraka yang seberat-beratnya! Dan (ingatkanlah perkara yang berlaku) semasa orang-orang yang kafir dan yang durhaka berbantah-bantahan dalam neraka, yaitu orang-orang yang lemah (yang menjadi pengikut) berkata kepada pemimpin-pemimpinnya yang sombong takbur: “Sesungguhnya kami telah menjadi pengikut-pengikut kamu, maka dapatkah kamu menolak dari kami sebagian daripada azab neraka ini? Orang-orang yang sombong angkuh itu menjawab: “Sebenarnya kita semua menderita bersama-sama dalam neraka (tidak ada jalan untuk kita melepaskan diri), karena sesungguhnya Allah telah menetapkan hukuman-Nya di antara sekalian hamba-Nya.” (QS. Mu’min, 40: 46-48)

Di alam akhirat, melalui kehendak Allah, kita akan melihat penyiksaan yang menimpa Fir’aun dan kaumnya yang telah menyiksa Musa عليه السلام dan para pengikut baginda.

Sementara itu, saat ini, kita seharusnya berdoa kepada Allah untuk menjadikan kita sebagai orang yang akan menyaksikan siksaan terhadap Firaun, bukan menjadi bagian orang yang berada bersama Firaun di neraka, melainkan menjadi bagian daripada para hamba-Nya yang bijak di dalam syurga. Amin

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>