«

»

Ketulusan Hati Seorang Ayah

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

c61Ada sebuah cerita renungan inspiratif tentang seorang anak yang mempunya ayah seorang Tentara, Ketika si anak duduk di bangku sekolah, Dia ingin sekali dibelikan mainan seperti kawan-kawan seusianya tapi keinginannya tidak pernah terpenuhi setiap kali si anak meminta mainan sang ayah hanya berkata “Sabar ya nak, nanti ayah belikan, berdoa saja ya kepada Allah SWT”.

Si anak sudah berkali-kali mendengar kalimat itu dari ayahnya, Ia bingung apakah itu janji yang akan ditepati beliau, atau hanya sebuah nasehat. Si anak pun yakin kalau ayahnya masih punya uang karena selama ini beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun lantas si anak berfikir mengapa oh mengapa? ayah tak membelikan mainan untukku

Si anak mengerti bahwa untuk menagih janji ayahnya itu sangat sulit karena terhalang oleh jadwal ayahnya yang sering bertugas dan berbualan-bulan meninggalkan rumah sering kali sang ayah berada dihutan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan.

Hanya Ibu si anak yang akhirnya memberikan pengalihan pikiran terhadap apa yang diinginkannya, mendengar nasehat ibu, sang anak akhirnya menyadari betapa ayahnya selalu berusaha untuk memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Si anak mulai berfikir dan memohon kepada Allah agar ayahnya bisa kembali kerumah dengan selamat dan sehal walafiat.

Sering kali si anak melihat ayahnya membawa ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan, satu tas coklat seperti sangsak tinju. Si anak sangat penasaran karena tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang seolah menghapus pikirannya untuk mendapatkan mainan seperti teman-teman seusianya..

Pada suatu hari si anak melihat ayahnya duduk tenang dikursi depan rumahnya, terbesit dalam pikirannya keinginan untuk membeli bola maka datanglah anak itu kepada ayahnya dan mengutarakan maksudnya tapi lagi lagi ayahnya hanya tersenyum dan mengelus kepalanya
sambil mengucap kata yang sama “Sabar ya nak dan Berdoalah!”.

Tak sampai 7 hari si anak mengutarakan permintaannya, Si ayah kembali pergi dari rumah dengan ransel hijau , tas coklat dan senjata laras panjangnya. si anak hanya bisa berdoa agar ayahnya kembali kerumah dengan selamat dan sehat walafiat.

Keinginan demi keinginan akhirnya harus pergi seiring rutinitas kepergian ayahnya yang tak menentu. Keinginan akan semua itu telah berubah menjadi sebentuk harapan agar sang ayah pulang dengan selamat, membawa serta kembali nafas dalam tubuhnya

Suatu hari di sore yang terang setelah satu hari sang ayah kembali dari tugas, Sang Ayah bertanya kepada si anak apakah dia sudah berdoa kepada Allah agar mendapatkan apa yang Ia inginkan, si anak cuma menggelengkan kepala dan berkata ” aku hanya berdoa agar ayah kembali kerumah dengan selamat”.

Tampak mata Si ayah sore itu berkaca kaca dan ia menatap si anak begitu tajamnya.
Sore itu juga sang ayah mengajak anaknya ke toko grosir untuk mendapatkan beberapa barang seperti jamu,obat-obatan, batu battery,odol,sabun,minyak angin dan banyak macam lainnya hingga penuh tas itu dengan berbagai macam barang yang dibelinya.
“Untuk apa ayah?” Si anak bertanya. Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum.
“Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi, ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta, selebihnya buat ibu!” jawab ayah.

Si anak baru menyadari kalu selama ini yang ada ditas coklat mirip sangsak tinju yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas bersama ransel hijau serta senjatanya adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan bagi kelurganya untuk sedikit rejeki selain dari gaji ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah adalah kawan-kawannya sendiri yang tak mungkin mendapatkan warung ditengah hutan untuk memperoleh barang-barang yang sepele namun sangat berguna disana.

Tak lama ketika tas coklat telah penuh, sang ayah menggamit lengan anaknya menuju sebuah Toko dan semua mainan yang waktu itu diinginkannya, sang ayah dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua mengendong tas coklat mirip sangsak dibahu kanannya sambil membayar semua mainan dengan tumpukan uang lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara yang terendam kadang dikubangan lumpur, pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda.

Sahabatku
Hidup itu sangat bergantung pada apa yang kita pikirkan. Semakin kuat kita memikirkan sesuatu maka semakin kuat juga kecenderungan apa yang ada dipikiran itu akan menjadi kenyataan.

Cerita ini mengajarkan kita semua bahwa Gaji adalah sebagian yang sangat kecil dari rejeki yang diberikan Tuhan. Walaupun Sang ayah seorang tentara Ia tak punya rekening gendut atau menakuti rakyat dengan bedil dan seramnya seragam miliknya untuk menambah uang sakunya.

Sang Ayah mengajarkan kita tentang sebuah kejujuran dan tanggung jawab untuk membahagiakan keluarganya bahkan Sang ayah hanya memiliki tas coklat gendut dengan segala macam isi yang memanfaatkan selisih harga beli dan harga jual tidak lebih dan itu yang bisa membuat keluarganya meloloskan diri dari sebagian kesulitan yang dihadapinya

Sahabatku..
Ketulusan Hati seorang ayah dibelahan dunia manapun sama walaupun peluh, keringat, jauhnya jarak, bahkan nyawa kerap tak bisa dihindari bagi seorang ayah pelindung keluarga. kadang terselip air mata bila mengingat apa yang diminta oleh anak anaknya tak mampu dipenuhi saat itu juga, dalam kesulitan mendapatkanya hampir semua pria membenamkan permintaan itu sebagai sebuah energi yang tersimpan dan menjadikanya sebagai pemicu dan pelecut semangatnya untuk kemudian dipergunakan sebagai tenaga tambahan.

Seorang ayah memang tak akan pernah sempurna di hadapan anak anak dan istrinya, namun justru ketidak sempurnaan itulah yang menjadi jaminan ia akan melindungi anak dan istrinya untuk mencapai sebuah kesempurnaan. Terima kasih kepada para ayah yang telah memberikan pelajaran bagi kita semua tentang arti berjuang untuk kehidupan. Pria yang tak meluangkan waktu untuk keluarga bukanlah pria sejati. –
Don Corleone – The Godfather.

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>