«

»

Mencari Jejak Ke Surga

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

d55Sakinah sering dimaknai dengan tenang, tentram, penuh kedamaian. Dan dalam terminologi arab, rumah kadang disebut dengan “maskan” atau tempat tenang, tempat yang menentramkan, untuk itu Rumah harusnya jadi tempat yang melahirkan ketenangan, kesejukan, seperti syurga yang indah bagi penghuninya.

Jadi kalau keluarga ribut melulu, bikin stress, bermasalah terus, maka dia kehilangan kesakinahannya, rumah yang kadang dingin ber AC tapi panas kayak neraka, yang kadang istrinya cantik jelita tapi berasa drakula, ini rumah yang kehilangan visi sakinahnya.

Menikah bukan cuma agar punya temen bobo dan temen bercanda, bukan sekedar biar halal colek-colekan, atau ada yang ngojekin kalau pulang ngantor, ada yang nemenin kalau kondangan, ada yang masakin kalau laper, ada yang betulin genteng kalau bocor.

Pertanyaan pertama yang harus disepakati jawabannya ketika pasangan ingin punya keluarga sakinah adalah, “kenapa sih kita menikah, ni keluarga mau dibawa kemana?”
Jawaban sederhananya agar kita bisa bahagia bersama didunia dan disyurga. Jadi saat menikah kita bermula, dan disyurga kita berujung. Jadi awalnya sakinah dan endingnya syurga.

Dan seorang muslim harusnya mengerti betul bahwa itu semua baru terwujud kalau Ridho Allah menaungi kita. Maka essensi kebahagiaan keluarga terletak pada mencari ridho Allah, disini kita belajar makna keikhlasan, arti ketulusan. Dari situlah semua makna keberkahan dan kebahagiaan berawal, adanya keikhlasan, ketulusan untuk saling membahagiakan, agar Allah ridho pada kita. “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman.

Jadi ketika keluarga kita romantis dan bahagia, tapi jauh dari Allah, sadarilah bahwa kita tertipu. Karena rumah itu gak sedang menuju syurga. Dan ketika rumah indah itu membentur gelombang, tertimpa konflik, dan perlahan karam, maka kita akan bingung kemana mesti bersandar.

Begitu pula ketika finansial keluarga positif, income nambah, tabungan makin banyak tapi ga makin rajin ibadah, ga makin rajin sedekah, silaturahmi, maka sadari berarti kita mulai salah arah, alias ga berkah.

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-Tahrim 66 : 11).

Ketika kita memahami bahwa bahwa keluarga sakinah itu endingnya Surga, maka tugas kita tuk ikhtiar, melakukan best effort, best action agar keluarga bisa melangkah ke syurga, dinaungi ridho Allah.

Kalau mau pergi jalan-jalan kekebon binatang, ngeliat monkey aja kita semangat banget ngajak keluarga, kita rencanain dulu berame-rame. apa lagi mau jalan-jalan keluar negri, semangat banget dah, persiapannya pun super mateng, pake nabung segala lagi, dari tiket ampe model baju kita siapin. Nah ini kita mau ngajak keluarga ke syurga, harusnya lebih semangat lagi, direncanain, disiapkan, invest buat bikin rumah disyurga, disiapin programnya agar keluarga berhak jadi pewaris syurga.

Rumah tangga yang sakinah dibangun diatas fondasi kekuatan cinta, cinta pada Allah dan Rosulnya, juga cinta tulus pada keluarga, untuk itu kita harus menyadari bahwa cinta itu bukan sekedar kata, ia butuh pengorbanan sebagai bukti ketulusan, hingga cinta itu bisa menentramkan dan menguatkan kita.

Maka hal yang selanjutnya harus kita kerjakan untuk keluarga yang kita cintai adalah:

Nyatakan Cinta Dengan Segala Cara.

Saatnya kita berikan terbaik tuk hal-hal terbaik yang kita miliki, kita berikan yang terbaik agar Allah memberikan ending yang terbaik. Komunikasikan cinta itu agar jadi energi yang memotivasi keluarga tuk terus tangguh bertahan bersama dalam keimanan apapun halangannya dan seberat apapun badai yang menerpa.

“Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik pada keluarganya, dan aku yang terbaik kepada keluargaku, tidaklah orang memuliakan wanita (istrinya) kecuali ia orang yang mulia, dan tidaklah orang menghinakan wanita kecuali ia terlaknat”
“Dan yg terbaik diantara kalian adalah yg paling baik pada wanitanya (istrinya)”
Jadi berikan sinyal bahwa cinta itu ada. Rosul mcontohkan kepada kita bagaimana memberikan jejak-jejak cinta dalam keluarga.

Sampaikan Dengan Kata.

Agar kata itu menyejukkan jiwa. Rosul seringkali memanggil istri dengan panggilan kesayangan “yaa aisy” ataupun “yaa humairo” bahkan panggilan pujian “yaa muwafaqoh”.
Rosul menjaga lisannya agar tak menyisakan luka, Rosul tidak pernah berkata keras dan kasar, Ia tidak pernah marah-marah pada istrinya. Saat Rosul tidak suka sesuatu, istrinya tau lewat diamnya sang baginda.

Sampaikan Lewat Do’a

Doakan agar keluarga jadi yang terindah buat kita. Doakan pasangan kita agar Allah menjaga mereka. Doakan sepenuh hati, saat mereka suka dan saat mereka luka, bukankah para nabi pun mendoakan keluarganya.
“Wahai Robb kami jadikan istri-isteri kami, dan anak-anak keturunan kami indah pada pandangan kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”.

*Tausiyah Ust. Ismeidas Makfiansyah

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>