«

»

Asap Dan Hujan Adalah Relasi Antara Maksiat & Taubat

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

d76Pada zaman Nabi Musa ‘Alaihis-Salam, Bani Israel ditimpa kemarau yang berkepanjangan. Mereka berkumpul mendatangi Nabi Musa,mereka berkata, “Wahai Nabi Alloh, berdoalah kepada Rabb-mu agar Dia menurunkan hujan kepada kami….!”

Maka berangkatlah Nabi Musa ‘Alaihis-Salam bersama kaumnya menuju padang yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh, penuh debu, haus, dan lapar. Nabi Musa berdoa :

إلهي … أسقنا غيثك … وانشر علينا رحمتك وارحمنا بالأطفال الرضع … والبهائم الرتع والمشايخ الركع اليك …
“Ilaahi …! Asqinaa ghaitsak … Wan-Syur ‘alaina rahmatak … war-Hamnaa bil-athfaalir-rudhdha’ … wal-bahaaimir-rutta’ … wal-masyaayikhir-rukka’ ilaika …” (“Tuhanku… Turunkanlah hujan kepada kami… Tebarkanlah Rahmat-Mu kepada kami, kasihilah kami demi anak-anak yang masih menyusu… Demi hewan ternak yang merumput, dan demi para orang-orang tua yang ruku’ kepada-Mu …”)

Namun setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi .asqinaa..” Alloh-pun Berfirman kepada Nabi Musa :

يا موسى أنى أكون بغيثكم و فيكم رجل يبارزني بالمعاصي أربعين عاما … فليخرج حتى أغيثكم …
“Wahai Musa … Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedang di antara kalian ada seorang hamba yang berma’siat kepada-Ku sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena sebab dialah Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian …”

Maka Nabi Musa-pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Alloh sejak 40 tahun… Keluarlah ke hadapan kami, karena sebab engkaulah hujan tak kunjung turun …”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan ke kiri, tapi tidak berani keluar ke hadapan manusia. Saat itu pula dia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud, dia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku, tapi kalau aku tidak keluar, maka hujanpun tidak akan turun…”

Maka hatinyapun gundah gulana, air matanya menetes, menyesali perbuatan ma’siatnya, sambil berkata lirih, “Ya Alloh… aku telah berma’siat kepada-Mu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku …”

Tidak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebalpun bermunculan, semakin lama semakin tebal dan menghitam. Dan akhirnya hujanpun turun …!
Nabi Musa pun keheranan dan berkata, “Ya Alloh, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar ke hadapan manusia“. Alloh berfirman :

يا موسى لقد تاب وتبت عليه، منعت عنكم الغيث بسببه، وأمطرتكم بسببه …”
“Wahai Musa, dia telah bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya, karena orang itulah Aku menahan hujan kepada kalian, dan karena dia pulalah Aku menurunkan hujan …”

Nabi Musa berkata :

ربي أرني أنظر إليه، ربي أرني ذلك الرجل
“Ya Alloh…Tunjukkan padaku orang itu… Tunjukkan aku pada orang itu…”

Alloh berfirman :

يا موسى … لقد سترته وهو يعصيني، أفلا أستره وقد تــاب وعـــاد إلي؟؟
“Wahai Musa, Aku telah menutupi ‘aibnya padahal dia bermaksiat kepada-Ku, Apakah sekarang Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia telah bertaubat dan kembali kepada-Ku?!”

SubhaanAllaah…
Sungguh Maha Pengasih Engkau Duhai Rabbi…
Kalaulah bukan karena Engkau yang menutupi aib-aib kami…
Tentulah kami akan sangat malu di hadapan para hamba-MU…

Engkau mengetahui dosa-dosa kami…
Kemalasan kami dalam beribadah, padahal kami dilihat sebagai orang yang berTAQWA di pandangan para hamba-MU…

Engkau mengetahui kefakiran dan kebutuhan hajat kami, padahal kami dilihat sebagai orang yang KAYA di pandangan para hamba-MU…
Kami bakhil Ya Rabby… sedikit sekali kami berbagi padahal Rezqi itu dari-MU…

Engkau mengetahui kelemahan dan keluh kesah kami, padahal kami dilihat sebagai orang KUAT di pandangan para hamba-MU…

Saudaraku seiman …
Jika Alloh Ta’ala, Tuhan yang mengetahui segala perbendaharaan langit dan bumi saja menutupi segala aib hamba-NYA,
Lalu siapalah kita… Dan apalah kita… kita tidak tahu dimana kita ditempatkan kelak… apakah di Jannah-Nya… ataukah di Neraka-Nya … ?!.

Astaghfirullaahal-‘Azhiim …
Allaahummaghfir-Lanaa … Warhamnaa…
Sehingga dengan entengnya menyebar luaskan aib dan keburukan saudara kita sendiri tanpa mashlahat…

Merasa seakan diri ini lebih suci, lebih alim, lebih hebat, dan lebih ahli ibadah. Padahal kita hanya lebih ahli menyebar luaskan keburukan saudara kita….
Tak sadarkah kita bahwa ternyata aib kita sendiri sudah menggunung tak terhingga…
Semoga kisah singkat ini bisa menjadi bahan renungan kita untuk selalu memperbaiki diri…
Selagi Alloh Menutupi Aib Kita…
Selagi Alloh Berjanji Mengampuni Dosa-Dosa Kita

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>