«

»

Ujian Keteguhan

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

f64Kalau tidak melihat kenyataan hidup, sulit rasanya mempercayai ada orang yang punya hati sebebal hati Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, Bal’am bin Ba’ura’, Musailimah al Kazzab, Ibnu Ubay bin Salul, Huyyay bin Akhthab, dan semacam mereka.

Kadang ingin rasanya berteriak sampai ke langit melihat kekejaman, ketidakadilan, keanehan, keganjilan, dan kedustaan yang dilakukan dengan terang-terangan, yang disaksikan jutaan mata. Namun apakah semua mata itu melihat entah tidak? Allah yang Maha Tahu. Apakah semua hati merasakan entah tidak? Dalam ilmu Allah itu semua.

Orang yang diharapkan untuk membela yang benar, justru dialah sumber kebatilan itu. Orang yang diharapkan lantang untuk bersuara, malah dialah yang memerintahkan untuk membungkam siapa saja yang berteriak. Garam yang diharapkan untuk mencegah segalanya dari kebusukan, kiranya garam itu yang duluan busuk.
Untunglah Allah selalu memberikan bimbingan-Nya melalui lantunan ayat-ayat-Nya yang tiada keraguan sedikitpun di dalamnya.

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk mengujimu, siapa di antara kalian yang terbaik amalannya”. (Al Mulk: 2)

Bagaikan orang tersadar dari lamunan, oh kiranya ini semua hanya ujian. Tak akan berlangsung lama.
Sejenak….betul-betul hanya sejenak. Sekejap, benar-benar sekejap. Bila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat sana.

Sediakan waktu setiap hari untuk berdialog dengan diri sendiri. Periksa setiap sudutnya. Adakah sifat-sifat para durjana itu lengket dalam diri?
Kalau ada, segera guyur dengan pengakuan yang tulus. Jujurlah kepada diri sendiri. Lanjutkan dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Ikuti dengan pendekatan diri dan penghambaan penuh kepada Allah. Sediakan waktu istimewa untuk beribadah khusus buat-Nya.

Nikmat itu bukanlah ketika kita terbebas dari kekejaman para durjana, tapi nikmat sesungguhnya adalah ketika kita mampu membebaskan diri dari sifat para durjana.
Sungguh mengakui kesalahan di dunia ini jauh lebih ringan dari pada penyesalan yang tidak ada gunanya di akhirat kelak. Di hari yang ketika itu harta dan anak-anak tidak berguna lagi. Kecuali orang yang kembali kepada Allah dengan hati pasrah berserah diri.
Wahai Zat yang maha membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami di atas agama-Mu dan dalam keta’atan kepada-Mu.
Zulfi Akmal

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>