«

»

Berqurban Sebagai Barometer Kecintaan Hamba Kepada Alloh

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

g52Syari’at berqurban telah ada sejak zaman Nabi Adam a.s. Kemudian Alloh menegaskan kembali perintah berqurban pada zaman Nabi Ibrahim a.s, yang pada intinya Alloh ingin melihat seberapa besar cinta hamba-Nya kepada Alloh dibandingkan dengan cinta hamba-Nya kepada selain Alloh.

Hakikat berqurban telah diabadikan oleh Alloh dalam Al Qur’an dengan kisah Qobil dan Habil, dimana keduanya bersengketa terhadap ketetapan Alloh. Penyelesaiannya adalah masing- masing diminta untuk berqurban. Dan yang diqurbankan saat itu bukan hewan domba atau sapi tapi hasil bumi. Jika qurbannya diterima maka dialah yang benar. Saat itu Alloh menerima qurbannya Habil sebab Habil memberikan yang terbaik.

Begitupun Nabi Ibrahim a.s. dengan kisahnya rela menyembelih anak yang paling dicintainya yaitu Ismail a.s. atas perintah Alloh. Istri dan anak yang dicintainya pun begitu ikhlas menerima akan ketetapan Alloh tersebut. Walaupun kenyataannya Ismail a.s. tidak jadi disembelih, akhirnya Alloh menggantinya dengan seekor gibas sebangsa domba. Artinya bahwa qurbannya Nabi Ibrahim a.s. bukan qurban domba atau sapi akan tetapi berqurban sesuatu yang beliau sangat mencintainya.

Untuk itulah Alloh meminta pengorbanan hamba-Nya atas rizki yang telah Alloh berikan, jangan sampai urusan dunia melupakan tujuan akhir hidup kita yaitu keselamatan di akhirat. Sebagaimana ujian yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim a.s., kita sebagai hamba Alloh pun diuji kecintaan dan keikhlasannya dalam berqurban. Inginkah kita mendapat cinta dan ridho Alloh SWT? Ataukah berqurban kita hanya sekedar kegiatan rutinitas tanpa makna?

Berqurban bukan untuk dilihat dan dipuji orang, maka dengan itu sia-sialah amalan berqurbannya. Sebagaimana firman Alloh SWT :

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Hajj, 22:37).

Bagi hamba yang beriman berqurban bukan kegiatan seremonial atau kebiasaan umat Islam, berqurban berwujud hewan atau lainnya adalah kehendak Alloh sebagaimana ketetapan Alloh yang terjadi pada Nabi-Nabi yang lainnya dalam mengaplikasikan titah perintah Alloh.

Februari 2013

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

1 comment

  1. Global Qurban

    Jazakumullah atas penjelasanyya semoga banyak orang yang berkurban dan tahu tentang syariat dan cara melkukan qurban dengan benar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>