«

»

Pertanyaan Malaikat Maut

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

k7Peristiwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan, seorang nabi dan rosulpun merasakan betapa sakitnya proses sakaratul maut. Apalagi sakaratul maut bagi orang kafir amat berat karena keimanan mereka ditolak dan nyawanya dicabut secara paksa oleh Malikat Maut. Pada orang kafir, malaikat Maut sambil mencabut nyawanya akan menanyakan sembahan-sembahan selain Allah SWT kepada orang zalim.

Pertanyaan Kepada Penyembah Berhala

Allah SWT menjelaskan bahwa mengadakan dusta terhadap Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya adalah pekerjaan yang paling zalim. Mengada-adakan dusta terhadap Allah ialah mewajibkan yang tidak diwajibkan Allah, memutar-balikkan hukum-hukum Allah yang halal dikatakan haram, yang haram dikatakan halal, yang hak dikatakan batil, yang batil dikatakan hak, atau berani mengatakan bahwa Allah beranak dan bersekutu. Mendustakan ayat-ayat Allah ialah tidak mau menerimanya, sengaja menolaknya, mempermainkan dan mengejeknya, atau lidahnya mengaku menerima pembagiannya seperti yang ditulis di dalamnya tentang nasib seseorang, baik-buruknya. Malaikat Maut menanyakan kepada orang musyrik tentang sembahan-sembahan yang mereka biasa sembah sewaktu di Dunia selain Allah SWT, sebagaimana Firman-Nya :

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh), hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al ’Arof, 7:37).

Walaupun perbuatan mereka termasuk yang paling zalim, namun mereka akan menerima nasibnya di dunia, nasib baik dan nasib buruk, nasib bahagia dan nasib sengsara. Firman Allah SWT :

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, Kemudian kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (QS. Luqman, 31:24).

Ketika orang yang paling zalim itu menerima nasib yang sudah ditentukan Allah semasa hidupnya di dunia, maka tiba-tiba berakhirlah nasibnya itu karena ajalnya sudah datang di saat malaikat maut telah datang mencabut nyawanya. Barulah timbul penyesalannya, ketika malaikat mengajukan pertanyaan kepadanya, manakah orang-orang yang kamu seru selama ini, kamu menyembah dan minta tolong kepadanya dan tidak mau menyembah dan minta tolong kepada Allah? Panggillah mereka itu untuk menolong kamu supaya terhindar dari bahaya api neraka yang kamu hadapi ini. Tapi apa daya, dengan sangat menyesal mereka menjawab: “Orang-orang yang kami sembah dan kami minta tolong kepadanya sudah hilang lenyap dari kami, tidak tahu kami ke mana perginya dan di mana tempatnya. Putuslah harapan kami akan mendapat pertolongan daripadanya.” Maka dengan terus-terang mereka mengakui bahwa mereka telah jadi kafir tersebab menyembah dan minta tolong kepada berhala-berhala dan pemimpin-pemimpin yang mereka persekutukan dengan Allah. Kejadian ini adalah suatu peringatan dan ancaman Allah bagi orang-orang yang masih kafir agar berhati-hati jangan bertaklid buta saja mengikuti propaganda seseorang yang akibatnya akan membawa kepada kekafiran dan kesesatan. (Tafsir / Indonesia / DEPAG).

Pertanyaan Kepada Orang Zalim

Orang yang zalim pada saat akan dicabut nyawanya oleh malaikat Maut tetap berbuat zalim pada dirinya sendiri, yaitu membohongi perbuatannya sendiri, yaitu tidak mengakui kesalahannya sendiri, akan tetapi malaikat Maut tidak mempercayainya, sebagaimana firman-firman-Nya :

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di Bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa, 4:97).

Menurut riwayat Ibnu `Abbas: beberapa orang Islam ikut berperang bersama kaum musyrikin, menentang Nabi Muhammad saw. Dalam peperangan itu di antara mereka ada yang mati kena panah dan ada pula yang mati kena pedang, lalu turunlah ayat ini. ((H.R. Bukhari).

Dalam ayat ini Allah menerangkan segolongan orang Islam yang tetap tinggal di Mekah. Mereka menyembunyikan keislaman mereka dari penduduk Mekah dan mereka tidak ikut berhijrah ke Madinah, padahal mereka mempunyai kesanggupan untuk melakukan hijrah. Mereka merasa senang tinggal di Mekah. walaupun mereka tidak mempunyai kebebasan mengerjakan ajaran-ajaran agama dan membinanya. Allah menyalakan mereka sebagai orang yang menganiaya dari sendiri. Sewaktu perang Badar terjadi. mereka di bawa ikut berperang oleh orang musyrikin menghadapi Rasulullah saw. Dalam peperangan ini sebagian mereka mati terbunuh. (Tafsir Ibnu Kasir, jilid I, hal. 542).

Sesudah mereka mati malaikat memukul mereka, karena mereka tidak berbuat sesuatupun dalam urusan agama mereka (Islam), seperti tidak dapat mengerjakan ajaran-ajaran agama. Mereka menjawab dengan mengajukan alasan bahwa mereka tidak berbuat sesuatu dalam urusan agama itu, disebabkan tekanan dan orang-orang musyrik Mekah, maka banyaklah kewajiban kewajiban agama yang mereka tinggalkan. Para malaikat menolak alasan mereka itu. Kalau benar-benar mereka ingin mengerjakan ajaran-ajaran agama, tentulah mereka meninggalkan Mekah dan hijrah ke Madinah. Bukankah bumi Allah ini luas? Kenapa mereka senang tetap tinggal di Mekah, tidak mau hijrah ? padahal mereka mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk hijrah itu? Mereka tidak pindah ke tempat yang baru di mana mereka akan memperoleh kebebasan dalam mengerjakan ajaran-ajaran agama dan memperoleh ketenteraman dan kemerdekaan. Oleh karena itu mereka mengalami nasib yang buruk. Mereka ditempatkan kedalam neraka Jahanam yakni tempat yang paling buruk.

Dari ayat ini dapat dipahami secara umum bahwa wajib bagi setiap orang Islam hijrah dari negeri orang kafir bilamana di negeri tersebut ada jaminan kebebasan melakukan kewajiban-kewajiban agama dan memelihara agama. Akan tetapi bilamana ada jaminan kebebasan beragama di negeri itu serta kebebasan membina pendidikan agama bagi dirinya dan keluarganya maka tidak diwajibkan hijrah. (Tafsir / Indonesia / DEPAG).

(Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri) maksudnya orang-orang yang tinggal bersama orang kafir di Mekah dan tidak hendak hijrah (malaikat bertanya) kepada mereka sambil mencela (“Kenapa kamu ini?” artinya bagaimana sebenarnya pendirianmu terhadap agamamu ini? (Ujar mereka) mengajukan alasan (“Kami ini orang-orang yang ditindas) artinya lemah sehingga tidak mampu menegakkan agama (di muka bumi”) artinya di negeri Mekah (Kata mereka) pula sambil mencela (“Bukankah bumi Allah luas hingga kamu dapat berhijrah padanya?”) yakni dari bumi kaum kafir ke negeri lain sebagaimana dilakukan orang lain? Firman Allah swt. (“Mereka itu, tempat mereka ialah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”) Tafsir / Indonesia / Jalalain

Kemudian pada hari itu Allah SWT melukiskan keadaan orang-orang musyrikin pada akhir hayat mereka. Yaitu pada saat malaikat maut telah merenggut nyawa mereka sedangkan mereka masih tetap dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri. Mereka tidak dapat mengelakkan diri dari kematian terkecuali hanya menyerahkan diri kepada malaikat itu sedangkan dalam hati mereka sendiri telah mengingkari pencipta Alam Semesta, dan kesudahan dari ciptaan Nya itu. Sebagaimana firman-Nya :

(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. An Nahl, 16:28).

Pada saat itu mereka telah menyampaikan atau membayangkan siksaan yang akan mereka terima karena keingkaran mereka kepada Allah Yang Maha Esa dan menganiaya diri mereka sendiri. Pada ketika itu nurani merekalah yang berbicara, mereka menyerah dan mengakui kepada kebenarannya, seraya mengatakan kami tidaklah menyekutukan tuhan-tuhan yang lain kepada Allah Yang Maha Esa. Tetapi pengakuan serupa itu telah terlambat, karena mereka pada saat keadaan segar bugar baik secara iktikad ataupun dart segi kenyataan, mereka telah benar-benar mendustakan keesaan Allah dan bergelimang dalam kebatilan, maka tidak benarlah apabila mereka mengharapkan kebahagiaan, karena mereka telah diberi akal yang dapat menilai baik dan buruk. Mereka telah mengetahui betapa besarnya dosa mendustakan keesaan Allah dan mendustakan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya maka hukuman yang pantas bagi mereka itu ialah menerima siksaan yang sesuai dengan amal perbuatan mereka. Mereka tidak dapat lagi menutup nutupi kejahatan yang mereka lakukan, betapa juapun mahirnya mereka membuat muslihat karena sesungguhnya mereka sendiri telah menyadari dan mengakui terhadap kejahatan mereka itu dan karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Selidik terhadap apa yang mereka kerjakan.

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>