«

»

Peristiwa Menjelang Ajal

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

k5Proses kematian adalah dicabutnya ruh atau nyawa manusia dari jasadnya. Proses diambilnya nyawa manusia dari jasad dinamakan sakaratul maut. Kematian manusia adalah awal perjalanan untuk menuju negeri akhirat yang kekal abadi.

Peristiwa menjelang ajal bagi manusia adalah datangnya malaikat Maut untuk bertugas mengambil atau mencabut nyawanya. Peristiwa menjelang ajal bagi orang-orang beriman seperti para nabi, maka malaikat Maut datang dengan sopan dan lemah lembut, akan tetapi kepada orang kafir maka malaikat Maut datang dengan sikap yang keras dan kasar.

Kisah Menjelang Meninggalnya Nabi Muhammad SAW

Betapa mulia dan indahnya akhlak nabi Muhammad SAW pada saat menjelang sakaratul maut. ‘Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan ceramah didepan sahabat-sahabatnya :

“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku”.

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. ” Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Maut melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii!” –
“Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa’alaihi wasahbihi wasallim.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

Kisah Menjelang Meninggalnya Nabi Musa a.s

Menjelang waktunya, malaikat Maut datang menghadap kepada Nabi Musa AS. Lantas, Nabi Musa bertanya “hai malaikat Maut, apakah engkau datang kesini untuk mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung ?” Malaikat Maut menjawab, “Untuk mencabut ruh dari tubuhmu ya nabi Allah”. Segeralah lakukan, jawab nabi Musa AS. Malaikat Maut berkata, ” Aku akan menarik ruhmu dari mulut ?” Nabi Musa AS pun keberatan dan berkata, “Apakah engkau tega mencabut nyawa ini dari mulutku, sementara mulut ini senantiasa bermunajat dan memuji kebesaran Robb-ku ?”. “Bagaimana Dengan Kaki ?” tanya malaikat Maut. Musa pun menjawab,”Apakah engkau tega mencabut nyawaku dari kaki ini, sementara langkah kaki ini digunakan untuk menerima wahyu Taurat dari Allah SWT di bukit Sinai”. “Bagaimana dengan tangan anda ya nabi Allah ?” tanya Malaikatul Maut. “Sesungguhnya Tangan inilah yang menerima lembaran Taurat dari Allah SWT, maka dari itu jangan cabut ruh ini dari tanganku” jawab Nabi Musa AS.

Malaikat Maut pun segera mengambil kulit jeruk yang harum dan diletakkan di hidung nabi Musa AS. Nabi Musa pun menghirupnya, dan itu pun menjadi nafas terakhirnya. Setelah ruh nabi Musa tercabut, Malaikat Maut. Bertanya, “Apa yang nabi Allah rasakan saat sakaratul maut ?” Nabi Musa pun menjawab, “Rasanya seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup ?”.
Jikalau Nabi Musa yang Sakaratul mautnya dimudahkan sudah sesakit itu. Apalagi kita Manusia Biasa yang banyak Dosa.

Keimanan Yang Tertolak Saat Ajal

Allah SWT menolak taubat atau keimanan bagi manusia yang berdosa pada saat menjelang ajal, sebagaimana keimanan Firaun pada saat akan menemui ajalnya sewaktu tenggelam dilaut Merah. Allah SWT menggambarkan dalam Firman-Nya:

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan :

“Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. An Nisa, 4:18).

Dan Kami memungkinkan bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka), hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada illah melainkan Illah yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yunus, 10:90-92).

BagikanPin on PinterestShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Tumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>